Selasa, 21 Juli 2009

TERUNTUK AYAH DAN IBU


Ayah, Ibu . . .
Engkau adalah pelita dalam hidup ku dan selalu merawat ku.
Engkau membimbing ku dari kecil hingga dewasa,
Ayah, Ibu . . .
Engkau adalah tuhan yang kedua bagi manusia.
Engkau tidak pernah putus asa dan lelah menyayangi aku.
Ayah, Ibu . . .
Aku anak mu selalu berbuat salah dan kadang-kadang tidak pernah menuruti kata – kata mu
Aku anak mu selalu berkata kasar dan kadang-kadang menyakiti hati mu.
Ayah, Ibu . . .
Maaf kan lah aku jika ada salah ku selama ini
Maaf kanlah jika aku tidak dapat memenuhi keinginan Ayah dan Ibu
Ayah, Ibu . . .
Aku sangat menyayangi kalian dan rindu dengan wajah mu
Terima kasih untuk mu. Semoga allah menjaga kalian dan sehat wal’afiat

Saudara ku Jangan Tinggalkan Shalat


Sesungguhnya apabila kita menyadari bahwasanya tidak ada yang namanya kehidupan abadi di dunia melainkan nanti ketika berada dalam kehidupan di akhirat. Dunia ini bukanlah merupakan tujuan akhir setiap kehidupan tetapi hanyalah tempat persinggahan sementara untuk menuju kepada keabadian, yaitu abadi di dalam surga atau selama-lamanya di neraka. Dan dunia ini adalah ladang untuk kita mempersiapkan bekal menuju tempat yang telah dijanjikan Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, “Ad-dunya mazra’atul akhirah,” Dunia adalah ladang untuk akhirat. Dan ini menunjukkan bahwa antara dunia dengan akhirat ada sebuah kesinambungan dan bukan merupakan dua hal yang terpisah, diawali dengan menjalani sebuah kehidupan di dunia dan diakhiri dengan menjalani kehidupan di akhirat.

Dunia adalah tempat kita untuk melakukan berbagai macam kegiatan, terutama yang berkaitan dengan aktifitas ibadah sehingga akan berakhir dengan kebahagiaan nantinya, baik di dunia dan di akhirat. Namun sebaliknya bila semasa di dunia segala kegiatan yang dikerjakan jauh dari hal-hal yang Allah Ta’aala inginkan, maka tentu nantinya akan berakhir dengan kerugian.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an di surat Al Israa’ (17) ayat 7, “In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum fa lahaa,” Jika kamu berbuat kebaikan berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat kejahatan maka akibatnya adalah bagi dirimu sendiri.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan kalau Allah Ta’aala telah memerintahkan kepada seluruh umat manusia (dan jin) untuk berbuat kebaikan, dan hal itu difirmankan dalam surat An Nahl (16) ayat 90, “Innallaaha ya’muru bil ‘adli wal ihsaani wa iita-i dzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari wal baghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruun,” Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi pertolongan kepada kerabat dan melarang berbuat yang keji, mungkar dan zalim, Allah mengajari kamu agar kamu mendapat peringatan.”

Bagi mereka yang ketika selama hidupnya sering dan banyak melakukan kebaikan maka akhir dari hidupnya juga akan mendapatkan kebaikan yang hakiki dari Allah dan digolongkan oleh-Nya masuk menjadi golongan hamba-hamba Allah yang bertakwa, seperti yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an di surat An Nahl (16) ayat 30, “Wa qiila lil ladziinat taqau maadzaa anzala rabbukum qaalu khairal lil ladziina ahsanuu fii haadzihid dun-yaa hasanatuw wa la daarul aakhirati khairuw wa la ni’ma daarul muttaqiin,” Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan kamu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi mereka yang berbuat kebaikan di dunia ini akan memperoleh kebaikan dan sesungguhnya negeri akhirat lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat orang-orang yang bertakwa.”

Di dalam ayat yang berbeda yaitu ayat 97, Allah Ta’aala berfirman, “Man ‘amila shaaliham min dzakarin au untsaa wa huwa mu’minun fa la nuhhyi-yannahuu hayaatan thayyibataw wa la najziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun,” Barangsiapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya Kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik; dan Kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

Ingat, bahwasanya di Hari Akhir nanti tidaklah seseorang akan menanggung apa yang dikerjakan orang lain melainkan hanya apa-apa yang telah diusahakan olehnya selama hidup di dunia. Allah Ta’aala berfirman dalam surat An Najm (53) ayat 38 sampai dengan 42, “Allaa taziru waaziratuw wizra ukhraa. Wa allaisa lil insaani illaa maa sa’aa. Wa anna sa’yahuu saufa yuraa. Tsumma yujzaahul jazaa-al aufaa, Wa anna ilaa rabbikal muntahaa,” Bahwa tidaklah seseorang yang berdosa akan menanggung dosa orang lain, dan bahwa bagi manusia hanyalah apa yang diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian Allah akan memberi balasan dengan balasan yang sempurna, dan sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah segala kesudahan.***